Seniman Mengajar

Uncategorized

Wabah virus corona yang menimpa seluruh belahan bumi kita juga menimbulkan dampak di dunia Pendidikan. Seluruh kegiatan belajar mengajar terpaksa berhenti total demi menekan bertambahnya orang yang terinfeksi covid-19. Hal tersebut membuat kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring/pembelajaran jarak jauh. Pembelajaran daring dilakukan agar para siswa tetap bisa belajar meskipun hanya berada di rumah mereka masing-masing.

Salah satu sekolah yang melakukan pembelajaran daring/ pembelajaran jarak jauh adalah SMA Masehi Kudus. Pada hari Rabu, tanggal 21 Oktober 2020 SMA Masehi Kudus mengundang guru tamu dari luar secara virtual melalui Google Meet dalam kegiatan #SenimanMengajar  yang bernama Bu Sareza Rohma Jati, S.Sn. Beliau merupakan alumni dari Institut Seni Indonesia dengan jurusan Kriya Seni. Dalam kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh siswa kelas X SMA Masehi Kudus, dengan bimbingan guru prakarya, yaitu Bu Francisca Mei Retnowati, S.Pd. sebagai Host Teacher.

Pertemuan #SenimanMengajar mengusung tema adalah belajar tentang batik jumputan. Pada pertemuan tersebut dijelaskan tentang jenis-jenis batik yaitu batik jumputan, tulis, cap, dan printing. Batik jumputan sendiri adalah batik yang dibuat dengan cara mengikat kain dengan menggunakan karet, tali raffia, ataupun dengan menggunakan benang, kemudian baru dicelupkan ke dalam pewarna.

Selain membahas tentang jenis batik, pembicara juga menyampaikan beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam membuat batik jumputan. Misalnya dalam proses pengikatan kain dengan tali, raffia, karet, ataupun benang, bahwa kain harus diikat dengan kuat. Dalam pembuatan batik jumputan teknik mengikat menjadi kunci utama. Hal ini dikarenakan supaya warna yang dihasilkan sesuai dengan yang diinginkan.

Dalam proses pewarnaan bisa menggunakan pewarna napthol, winter, indigosol, dan lain-lain tergantung besar kecilnya kain yang akan dibuat. Proses pewarnaan bisa dilakukan dengan cara dicelup ataupun disemprot (spray). Jika ingin menghasilkan pola warna yang pecah-pecah, dalam proses pewarnaan bisa menggunakan parafin dan menggunakan proses pelorotan.

Dari kegiatan #SeminarMengajar yang disampaikan oleh Bu Sareza diharapkan bisa bermanfaat bagi kita semua terlebih di masa pandemi seperti ini agar kita bisa mengolah kemampuan untuk menghasilkan suatu karya yang menghasilkan.

_Seeker_

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.